Kata Mutiara Hari Ini,,,,,,

Apabila iqomah shalat dimulai, pintu-pintu langit di buka dan doa-doa dikabulkan (Hr. Ahmad dari Jabir)

Senin, 13 Februari 2012

Produksi Bunyi Bahasa pada Manusia


PRODUKSI BUNYI PADA MANUSIA


A.    Pendahuluan
Pada umumnya manusia berkomunikasi melalui bahasa dengan cara menulis atau berbicara. Jika komunikasi dilakukan dengan menulis, maka tidak ada alat ucap yang ikut terlibat di dalamnya. Sebaliknya, jika komunikasi dilakukan melalui berbicara, alat ucaplah yang memegang peranan penting. Alat ucap inilah yang nantinya menghasilkan bunyi bahasa.
Bunyi bahasa merupakan hasil yang dibuat oleh alat ucap manusia seperti; pita suara, lidah, dan bibir. Bunyi bahasa dibuat oleh manusia untuk mengungkapkan sesuatu. Bunyi bahasa ini dapat terwujud dalam nyanyian atau dalam tuturan.
Dengan adanya alat ucap pada manusia, kita dapat berkomuniakasi dengan orang lain secar lisan. Namun, Tidak menutup kemungkinan pula dalam proses menghasilkan bunyi, ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi alat ucap ketika menghasilkan bunyi. Ada beberapa permasalahan-permasalahan yang muncul dalam menghasilkan bunyi, anatara lain; bagaimana bunyi itu terjadi, rincian bunyi ujaran, adakah yang mempengaruhi terjadinya bunyi, dan macam-macam bunyi berdasarkan klasifikasi tertentu. Untuk menjawab permasalahan-permasalahan tersebut, makalah ini secara singkat akan menguraikan beberapa hal yang berkaitan dengan produksi bunyi bahasa tersebut.

B.     Produksi Bunyi
Jika kita mendefinisikan kata produksi, maka diartikan sebagai menghasilkan. Sehingga jika kata produksi itu melekat pada kata produksi bunyi, maka dapat diartikan sebagai menghasilkan bunyi. Dalam uraian ini akan dibahas secara singkat mengenai produksi bunyi. Produksi bunyi yang berkaitan dengan bunyi ujar, merupakan suatu proses yang komplek. Produksi bunyi bahasa dalam proses pembentukan bunyi bahasa ada tiga faktor yang terlibat, yaitu : a) sumber tenaga (udara yang dihembuskan oleh paru-paru), b) alat ucap yang dilewati udara dari paru-paru (batang tenggorok, kerongkongan, rongga mulut dan rongga hidung), c) artikulator (penghambat).
Proses pembentukan bunyi bahasa dimulai dengan memanfaatkan pernafasan sebagai sumber tenaganya. Pada saat kita mengeluarkan nafas, paru-paru menghembuskan tenaga yang berupa arus udara. Arus udara itu dapat mengalami perubahan pada pita suara. Arus udara dari paru-paru dapat membuka kedua pita suara yang merapat hingga menghasilkan cirri-ciri bunyi tertentu. Gerakan membuka dan menutup pita suara itu menyebabkan udara di sekitar pita suara itu bergetar. Perubahan bentuk saluran suara yang terdiri atas rongga faring, rongga mulut, dan rongga hidung menghasilkan binyi bahasa yang berbeda-beda. Bunyi bahasa yang arus udaranya keluar melalui mulut disebut dengan bunyi oral, sedangkan bunyi bahasa yang arus udaranya keluar dari hidung disebut dengan bunyi sengau atau nasal. Adapun bunyi bahasa yang arus udaranya sebagian keluar melalui mulut dan sebagian melalui hidung disebut dengan bunyi disengaukan atau dinasalisasi (Hasan Alwi, dkk: 2005:48).
Secara garis besar bunyi yang keluar dari mulut manusia bukan suatu peristiwa yang muncul secara tiba-tiba begitu saja tanpa ada proses terjadinya. Secara nyata, bunyi ujar/ bahasa tersebut terjadi ketika diawali adanya udara masuk ke paru-paru. Bermula dari udara itu dihasilkan oleh paru-paru yang diatur oleh gerakan-gerakan teratur dari sekat rongga dada. Apabila udara itu mengalir ke atas, melalui larinx dan farinx, lalu ke depan dan keluar mulut atau hidung atau kedua-duanya, arus udara itu dapat dihambat atau dirintangi pada berbagai tempat seluruh jalan itu dan bentuk dari ruang-ruang yang dilaluinya dapat diubah-ubah. Apabila pada saat bunyi itu keluar dari rongga mulut dan hidung mendapatkan halangan atau penyempitan dan disertai dengan bergetarnya atau tidaknya pita suara maka akan mengasilkan bunyi-bunyi kontoid/ konsonan. Sedangkan, bila saat keluarnya tidak disertai hambatan atau penyempitan pada rongga mulut tetapi disertai penyempitan pada glotis sehingga pita suara turut bergetar maka akan dihasilkan bunyi-bunyi vokoid/ vokal.
Bunyi, agar dapat dipahami oleh orang lain, terjadi proses tahapan-tahapan yang komplek. Berawal dari pemrosesan tingkat pesan, yang mana pesan diproses dahulu sebelum dikirim, kemudian melalui tahapan proses tingkat fungsional, yang mana bentuk leksikal dipilih lalu diberi peran dan fungsi sintaktiknya, selanjutnya proses tahapan berikutnya tingkat posisional, yang mana konstituen dibentuk dan afiksasi dilakukan, dan sebagai tingkat fonologi, yaitu struktur fonologi ujaran itu diwujudkan (Bock and Levelt, 1994:945-984).
Berikut ini bagian-bagian tubuh kita yang berperan dalam melakukan produksi bunyi bahasa. 
1.      Bibir (lip, labia)
Dalam pembentukan bunyi bahasa bibir atas adalah sebagai artikulator pasifnya bekerja sama dengan bibir bawah sebagai artikulator aktifnya, sehingga menghasilkan bunyi bilabial. Dapat juga bibir bawah sebagai artikulator pasifnya, hasil paduan itu adalah labio-dental.
2.      Gigi (teeth, denta)
Gigi dibagi menjadi dua bagian, yaitu gigi atas dan gigi bawah, tetapi yang banyak berperan sebagai penghasil bunyi bahasa yaitu gigi atas. Gigi atas berperan sebagai artikulator pasifnya bersama-sama dengan bibir bawah dan ujung lidah. Bunyi yang dihasilkan dengan hambatan gigi atas beserta bibir bawah disebut labio-dental dan dihasilkan oleh hambatan gigi atas dengan ujung lidah disebut apiko-dental.
3.      Langit-langit keras (hard palate, palatum)
Langit-langit keras merupakan susunan bertulang. Pada bagian depan mulai langit-langit cekung ke atas dan bagian belakang berakhir dengan bagian yang terasa lunak bila diraba. Dalam pembentukan bunyi bahasa langit-langit keras ini sebagai artikulator pasifnya, sedangkan artikulator aktifnya adalah ujung lidah atau tengah lidah. Bunyi yang dihasilkan oleh langit-langit keras (palatum) disebut palatal. Bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah disebut apikal dan bunyi yang dihasilkan dengan hambatan tengah lidah (medium) disebut medial. Gabungan yang pertama menjadi apiko-palatal, sedang gabungan yang kedua menjadi medio-palatal.
4.      Langit-langit lunak (soft palate, velum)
Langit-langit lunak bagian ujungnya disebut anak tekak (uvula) dapat turun naik sedemikian rupa. Dalam keadaan bernafas normal, maka langit-langit lunak beserta ujung anak tekak menurun sehingga udara dapat keluar masuk melalui rongga hidung. Demikian pula pada waktu terbentuknya bunyi nassal. Dalam pembentukan bunyi ia sebagai artikulator pasif (dasar atau basis artikulasi), sedangkan artikulator aktifnya adalah pangkal lidah. Bunyi yang dibentuk oleh pangkal lidah (dorsum) disebut dorsal. Gabungan keduanya disebut dorso-velar. Untuk bunyi yang dihasilkan oleh anak tekak (uvula) disebut uvular.
5.      Gusi dalam (alveola, alveolum)
Dalam pembentukan bunyi bahasa gusi sebagai artikulator pasif, sedangkan artikulator aktifnya adalah ujung lidah. Bunyi yang dihasilkan oleh gusi (alveola, alveolum) disebut alveolar. Oleh karena itu, bunyi yang dihasilkan dengan hambatan ujung lidah dengan gusi disebut apiko-alveolar. Selain itu, dapat juga alveolum bekerja sama dengan daun lidah (laminal), gabungan keduanya disebut lamino-alveolar.
6.      Lidah (tangue)
Dalam pembentukan bunyi bahasa lidah sebagai artikulator aktif mempunyai peranan yang sangat penting. Lidah dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu akar lidah (root), pangkal lidah (dorsum), tengah lidah (medium), daun lidah (lamina) dan ujung lidah (apex). Akar lidah bekerja sama dengan rongga keronggkongan menhasilkan bunyi radiko-faringal. Pangkal lidah bekerja sama dengan langit-langit lunak menghasilkan bunyi dorso-velar. Tengah lidah bekerja sama dengan langit-langit keras menghasilkan bunyi medio-palatal. Ujung lidah bekerja sama dengan langit-langit keras menghasilkan bunyi apiko-palatal. Selain itu, ujung lidah dapat juga bekerja sama dengan langit-langit keras manghasilkan bunyi apiko-palatal. Selain itu, ujung lidah dapat juga bekerja sama denga gusi dan gigi atas, sehingga menghasilkan bunyi apiko-alveolar dan apiko-dental.
7.      Rongga Kerongkongan (pharynx)
Rongga kerongkongan atau faring adalah rongga yang terletak di antara pangkal tenggorok dengan rongga mulut dan rongga hidung. Fungsi utamanya adalah sebagai saluran makanan dan minuman. Dalam pembentukan bunyi bahasa peranannya terutama hanyalah sebagai tabung udara yang akan ikut bergetar bila pita suara bergetar. Bunyi bahasa yang dihasilkan oleh faring disebut bunyi faringal.
8.      Pangkal Tenggorokan
Pangkal tenggorokan adalah rongga pada ujung pipa pernafasan. Rongga ini terdiri atas empat komponen, yaitu tulang rawan krikoid, dua tulang rawan aritenoid, sepasang pita suara, dan tulang rawan tiroid. Tulang rawan krikoid berbentuk seperti lingkaran sebagai tumpuan. Dua tulang rawan aritenoid bentuknya kecil seperti pyramid terletak di atas tulang rawan krikoid. Sistem otot aritenoid dapat bergerak mengatur gerakan sepasang pita suara. Pita suara bagian muka terkait pada tulang rawan tiroid, sedang bagian belakang pada tulang rawan aritenoid terkait pada tulang rawan aritenoid. Sepasang pita suara dapat membuka lebar, membuka, menutup dan menutup rapat. Fungsi utama pita suara ini adalah sebagai pintu klep yang mengatur perjalanan arus udara dari paru-paru ke hidung atau mulut. Tulang rawan tiroid atau lekum dapat dilihat berbentuk menonjol pada kaum laki-laki. Tiroid sebenarnya tidak begitu mempunyai peranan yang berarti dalam pembentukan bunyi bahasa. Dengan peristiwa membuka dan menutupnya pita suara maka terbentuklah suatu celah atau ruang di antara sepasang pita suara. Celah itu disebut glottis. Katup pangkal tenggorokan (epiglottis) terletak pada pintu masuk pangkal tenggorokan, berfungsi untuk melindungi masuknya makanan atau minuman ke batang tenggorokan.
9.      Paru-paru
Fungsi paru-paru adalah untuk pernafasan. Bernafas pada dasarnya adalah mengalirkan udara ke dalam paru-paru (menarik nafas) dan mengeluarkan udara yang telah kotor dari paru-paru (menghembuskan nafas). Selama manusia masih hidup proses mengembang dan mengempisnya paru-paru yang dikerjakan oleh otot-otot paru-paru, otot perut, dan rongga dada berjalan terus tanpa berhenti, arus udara dari paru-paru inilah yang menjadi sumber syarat mutlak terjadinya bunyi.

C.    Rincian Produksi Ujaran
Dalam proses memproduksi ujaran, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui seperti halnya tahapan-tahapan menghasilkan bunyi tersebut. Hal ini berkaitan dengan rencana pengartikulasiannya. Menurut (Clark dan Clark, 1977:223-358) dapat diwujudkan seperti skema berikut ini.
                                                                  Wacana
                  Perencanaan                            Kalimat
                                                                  Konstituen
Produksi
                                                                  Program artikulasi
                  Pelaksanaan
                                                                  Artikulasi

Perencanaan produksi wacana terdiri atas dua macam, yaitu; wacana dialog dan monolog. Untuk wacana dialog sudah jelas bahwa adanya interaksi antara pembicara dan pendengar. Adapun jika wacana monolog, sudah pasti pelakunya hanya satu orang, entah itu sebagai pembicara atau penulis. Dalam wacana dialog, terdapat empat unsur yang terlibat; a) personalia, b) latar bersama, c) perbuatan bersama, dan d) kontribusi. Berkaitan dengan unsur personalia, pada dasarnya dalam dialog ini harus ada lebih dari satu orang, satu sebagai pendengar (side Participants) dan yang satu pelaku sebagai pembicara. Disamping itu, personalia juga dapat mencakup bystanders, yakni partisipant yang mempunyai akses tehadap apa yang dibicarakan oleh pembicara dan interlokutor dari kehadirannya diakui. Terakhir adalah nguping (eavesdroppers), yakni partisipan yang juga mempunyai akses terhadap percakapan itu tetapi kehadirannya tidak diakui-artinya, bisa saja dia ada di kamr sebelah tetapi mendengar percakapan tersebut, tersebut.
Adapun unsur latar bersama, pada dasarnya adalah merujuk pada anggapan bahwa baik pembicara maupun interlokutornya sama-sama memiliki pengetahuan yang sama. Kesamaan dalam pengetahuan inilah yang dinamakan latar bersama (common ground). Sebagai contoh ddialog berikut ini.
Alin           : halo, ini alin
Semmi       : oh, iya,,,, halo,,, apa kabar lin?
Alin           : kabar baik, ngomong-ngomong kamu sudah dengar belum kalo ibu guru kita Trisna masuk rumah sakit?
Semmi       : belum tahu aku lin, kapan dan kenapa ya?
Alin           : denger-denger dari orang lain katanya opersi batu ginjal, bagaimana? Kamu sudah jenguk belum?
Semmi       : belum, bagaimana kalo besuk kita jenguk.
Alin           : iya, kita jenguk besok, saya akan ke rumahmu dulu aja ya?
Semmi       : ya baiklah kalo begitu.
Latar bersama yang mengacu pada percakapan Alin dan Semmi adalah teman mereka yang bernama Trisna. Latar bersama ini sama-sama diketahui oleh Alin dan semmi yaitu yang mengenal ibu guru Trisna. Tanpa latar bersama ini percakapan antara Alin dan Semmi yang membicarakan ibu guru Trisna tidak akan terjadi, hal ini dikarenakan si semmi pasti bertanya-tanya siapa itu si trisna.
      Unsur perbuatan bersama adalah bahwa baik pembicara maupun interlokutornya melakukan perbuatan yang pada dasarnya mempunyai aturan yang mereka ketahui bersama. Dalam unsur perbuatan bersama ini terdapat apa yang namanya pembukaan, isi, dan penutup. Sebagai contoh misalnya:
Alin           : halo, ini alin
Semmi       : oh, iya,,,, halo,,, apa kabar lin?
Pembukaan pada teks di atas adalah menanyakan tentang kabar. Si alin yang menyapa dengan kata halo, dibalas si semmi dengan kata halo juga, kemudian dilanjutkan dengan menanyakan kabar.
Sebagai contoh untuk teks isi pada unsur perbuatan bersama terlihat pada contoh berikut ini.
Alin           : kabar baik, ngomong-ngomong kamu sudah dengar belum kalo ibu guru kita Trisna masuk rumah sakit?
Semmi       : belum tahu aku lin, kapan dan kenapa ya?
Alin           : denger-denger dari orang lain katanya opersi batu ginjal, bagaimana? Kamu sudah jenguk belum?
Semmi       : belum, bagaimana kalo besuk kita jenguk.
Inti dari unsur perbuatan bersama yang berupa isi adalah memberitahukan bahwa ibu guru Trisna sedang di rumah sakit disebabkan opersi batu ginjal. Si alin memberitahukannya kepada semmi yang belum mengetahui berita tersebut.
Unsur perbuatan bersama yang berupa penutup terlihat pada contoh berikut ini.
Alin           : iya, kita jenguk besok, saya akan ke rumahmu dulu aja ya?
Semmi       : ya baiklah kalo begitu.
Pada dasarnya unsur penutup ini akan mengakhiri percakapan, yang mana akhir dari percakapan ini adalah ajakan untuk menjenguk ibu guru Trisna di rumah sakit. Si alin akan berangkat ke rumah sakit dengan menjemput Semmi di rumahnya.
            Selanjutnya adalah unsur kontribusi, yaitu mempunyai dua tahapan, a) tahap presentasi di mana pembicara menyampaikan sesuatu untuk difahami oleh interlokutornya, b) tahap pemahaman di mana interlokutornya telah memahami apa yang disampaikan oleh pembicara. Sebagai contoh misalnya;
Alin           : halo, ini alin
Semmi       : oh, iya,,,, halo,,, apa kabar lin?
Alin           : kabar baik, ngomong-ngomong kamu sudah dengar belum kalo ibu guru kita Trisna masuk rumah sakit?
Semmi       : belum tahu aku lin, kapan dan kenapa ya?
Alin           : denger-denger dari orang lain katanya opersi batu ginjal, bagaimana? Kamu sudah jenguk belum?
Semmi       : belum, bagaimana kalo besuk kita jenguk.
Alin           : iya, kita jenguk besok, saya akan ke rumahmu dulu aja ya?
Semmi       : ya baiklah kalo begitu.
Dari percakapan tersebut terlihat dari pembicara (Alin) ke interlokutornya si Semmi. Semula si semmi tidak begitu paham apa yang ditanyakan oleh Alin tentang seseorang yang di rawat di rumah sakit. Setelah si Alin memberitahukan, semmi paham siapa dan di mana di rawat, dan akhirnya mereka  berdua akan berangkat bersama.




Daftar Pustaka
Andre Martinet. 1987. Ilmu Bahasa. Terjmahan Rahayu S. Hidayat. Yogyakarta: Kanisius.

Ferdinand De Saussure. 1988. Pengantar Linguistik Umum. Terjemahan Rahayu S. Hidayat. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Hasan Alwi, dkk. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
J.W.M, Verhaar.1989. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Masnur Muslich. 2008. Fonologi Bahasa Indonesia (Tinjauan Dekriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia). Jakarta: Sinar Grafika Offset.

Soenjono Dardjowidjojo. 2010. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.  





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar